Penodaan Terhadap Agama?

Posted: April 4, 2011 in Agama, Argumen
Tag:, , , ,

Sebenarnya kristen menghina Islam karena menganggap Muhammad bukanlah siapa-siapa (bahkan ada yang menganggapnya nabi palsu, atau bahkan anti-kristus)

Sebenarnya Islam menghina kekristenan, karena menganggap Yesus bukan sebagai juru selamat maupun anak Tuhan, melainkan sebagai salah satu nabi saja.

Sebenarnya Hindu lebih menghina lagi karena menganggap Yesus maupun Muhammad bukanlah siapa-siapa, sebagaimana agama-agama Ibrahim tidak menganggap dewa-dewa mereka sama sekali.

…Dan kalau daftar penghinaan antar ajaran agama ini diteruskan… list-nya bisa sepanjang jalan tol *lebay*

The point is… setiap ajaran agama selalu ada unsur yang menghina/menyalahkan ajaran agama lainnya.

Saya miris ketika mendengar Ahmadiyah dituduh melakukan penodaan terhadap agama, hanya karena mereka yakin adanya nabi baru setelah Muhammad (yang menurut doktrin utama mainstream muslim adalah nabi terakhir). Mereka tidak menolak kenabian Muhammad (sebagaimana agama lain lakukan), apalagi mengkritisinya.

Kenapa saya miris? Karena jika Ahmadiyah yang masih sangat memuliakan ajaran Islam saja dianiaya setengah mati, bagaimana dengan pihak lain yang terang-terangan kritis terhadap Islam, Muhammad dan Al-Quran?

Dan kalaupun benar seseorang itu mengkritik bahkan menghina sebuah agama, LAYAKKAH DIHABISI? Jika anda menjawab YA, dan konsisten terhadap prinsip dari jawaban tersebut, maka anda layak pula membunuh para pemeluk agama berbeda yang ajarannya berlawanan dengan ajaran anda (seperti Islam dengan Kristen dengan Hindu sebagaimana contoh yang saya tulis di atas).

Ada contoh yang lebih konyol lagi, yaitu di awal 90-an, ketika Arswendo Atmowiloto dituduh melakukan penghinaan terhadap nabi Muhammad, ketika ia mengadakan polling di tabloid Monitor mengenai “Tokoh publik yang paling dikagumi”. Jajak pendapat  tersebut menempatkan Nabi Muhammad pada posisi ke-11, jauh di bawah Presiden Soeharto yang menempati peringkat pertama atau Iwan Fals yang menempati posisi ke-4. Sedangkan Arswendo sendiri terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW.

Jika dipandang secara objektif, tabloid Monitor tidak bisa disalahkan jika metode yang digunakan dalam polling dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Monitor hanya berupaya menyajikan hasil polling tersebut secara transparan dan apa adanya. Justru, ini bisa menjadi sarana refleksi untuk memahami realita masyarakat. Tapi apa yang terjadi? Arswendo dipenjara, tabloid tersebut pun dibredel. Sebagian masyarakat muslim marah dan pada 22 Oktober 1990, kantor Monitor didemo dan dirusak massa.

Apakah mereka yang resah dan marah itu tak mau menerima kenyataan bahwa junjungan mereka tidak berada pada urutan satu? Lantas kemudian menuduh orang yang tidak menomorsatukan junjungannya sebagai orang yang melakukan penghinaan terhadap agama? Sulit untuk berkata tidak setelah melihat realita semacam ini.

Wahai kaum beragama (terutama muslim, karena kalian paling gampang tersinggung), sadarlah bahwa Blasphemy is a victimless crime. Kritik dan hujatan terhadap agama haruslah disikapi secara bijak dan dengan kepala dingin, bukan dengan kekerasan. Kalian mungkin akan mendapatkan rasa hormat dengan ancaman, tapi itu adalah rasa hormat yang sangat semu.

Masih ingatkah kalian ketika pada tahun 2010, beberapa kaum muslim garis keras mengancam kartunis Southpark atas penggambaran terhadap nabi Muhammad dengan kostum beruang? Well, ancaman tersebut malah bersifat kontraproduktif: akibatnya sekarang tiap tanggal 20 Mei diadakan hari menggambar Muhammad sedunia (Everybody draw Mohammed Day), sebagai respon penduduk negara-negara bebas, yang tak mau tunduk pada ancaman-anacaman kaum fanatik, dan kehilangan hak mereka atas kebebasan berpendapat (termasuk hak mengkritik agama).

Kali ini mereka sudah muak dengan tuntutan kaum fanatik atas penghormatan. Dan sekarang sudah banyak bermunculan para pengkritik agama yang berani seperti Ali Sina, Ayaan Hirsi Ali, Wafa Sultan, Irshad Manji, Geert Wilders, George Carlin, Christopher Hitchens, dan sebagainya, yang terang-terangan mengkritik agama. Ini menunjukkan bahwa Kehormatan itu tak bisa diperoleh dari ancaman dan paksaan, melainkan dari perilaku dan sikap. Jadi kalian takkan pernah bisa mendapatkan rasa hormat yang sejati dengan memaksa orang menghormati kalian dan mengancam membunuh orang yang tidak menunjukkan rasa hormat. Yang terjadi justru malah sebaliknya: munculnya kebencian dan kejijikan pada objek yang dipaksakan untuk dihormati itu.

yang ada malah jadi bahan tertawaan seperti ini:

Komentar ditutup.